Partai

by

Kabarsahih.com – Partai adalah organisasi yang dibentuk oleh masyarakat untuk meraih kekuasaan. Partai bisa kita bagi dua, partai Islam dan partai sekuler. Partai Islam adalah partai yang asas dan perilakunya dilandasi oleh Islam (Al Qur’an, Sunnah dan Ijtihad ulama yang shaleh). Sedangkan partai sekuler adalah partai yang landasannya adalah akal fikiran manusia semata (plus syahwat).

Maka partai Islam, anggota-anggota dan pengurusnya semuanya adalah Muslim. Karena hanya Muslim yang mengetahui dan memahami kemana partai melangkah dan untuk apa partai itu dibuat. Maka aneh sekali, bila partai Islam pengurus atau anggota partainya ada yang non Islam.

Partai Islam harusnya merujuk pada sejarah bagaimana Rasulullah membentuk ‘organisasi kecil’ di Darul Arqam dalam periode dakwah di Mekkah. Disitu misi Rasulullah jelas, ingin mengislamkan kabilah Arab dan sekitarnya. Sehingga anggota-anggotanya semua Muslim. Mereka mempunyai fikiran dan perasaan yang sama ingin mengislamkan orang-orang di sekelilingnya. Ingin membentuk masyarakat Islam. Sehingga kemudian Allah SWT memberikan pertolongan dengan terbentuknya masyarakat Islami di Madinah (negeri Islami).

Bila partai Islam anggota atau pengurusnya ada yang non Muslim, maka partai itu akan mengalami ‘split peronality’. Partai itu akan bingung melangkah. Karena kalau mereka benar-benar Islam, mereka takut pengurusnya non Muslim akan protes. Partai seperti ini menjadi tidak jelas langkahnya dalam membela Islam atau mewujudkan masyarakat Islam, sebagai cikal bakal negara Islam.

Partai Islam harusnya tidak takut menyatakan dirinya ingin membentuk negara Islam. Sebagaimana partai-partai sekuler atau non Islam dengan gagahnya menyatakan diri akan membentuk negara sekuler atau negara non Islam.

Bila partai Islam takut, maka yang terjadi adalah partai itu menjadi tidak jelas karakternya dan tidak jelas programnya. Hal ini juga akan merembet kepada pengurus dan anggota-anggotanya tidak semangat atau loyo dalam loyalitasnya ke partai. Sehingga partai Islam itu akhirnya wajahnya seperti partai sekuler atau non Islam. Dimana tujuan keterlibatan pengurus atau anggota-anggota partai itu hanya jabatan dan uang belaka.

Dan inilah yang menyebabkan kekalahan partai-partai Islam sekarang ini. Mereka terus menjadi bulan-bulanan atau menjadi ‘anak bawang’ di negeri ini. Partai Islam tidak lagi menjadi kekuatan yang menggetarkan, seperti partai Masyumi dulu, yan g berwibawa dan membuat takut PNI dan PKI.

Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amaanat Nasional, seharusnya mencontoh Partai Masyumi. Berani terus terang menyatakan bahwa partainya adalah partai Islam. Partainya ingin menegakkan hukum-hukum Islam baik indidvidu, keluarga, masyarakat dan negara.

Partai Gerindra mesti sekarang sejalan dengan partai Islam, tapi karena AD/ART nya tidak jelas dalam pembelaannya ke Islam, suatu saat atau dalam masalah-masalah krusial tentang Islam (misalnya dalam pembentukan UU) bisa membelot ke partai sekuler/non Islam.

Yang tragis adalah PPP. Partai ini sebenarnya merupakan pelanjut dari Partai Masyumi. Tapi karena orang-orang yang melanjutkan tidak memahami Masyumi, maka langkah partai ini akhirnya menjadi ngawur. Bagaimana sebuah partai Islam kok mendukung orang-orang kafir menjadi pemimpin di negeri ini?

Jadi, partai itu adalah wadah. Tergantung pada orang-orang yang mengisinya. Tergantung pada tokoh-tokohnya. BIla partainya partai Islam, dan tokoh-tokohnya komitmen yang tinggi terhadap Islam, maka partai itu akan membesar. Tapi, kalau pimpinannya tidak mengamalkan Islam, maka anak buahnya menjadi ragu dan partai itu terus menjadi kecil.

Hal ini terjadi  di PBB. Partai yang dibentuk ormas-ormas Islam ini tidak pernah menjadi besar, karena pimpinannya tidak serius dalam memperjuangkan Islam. Misalnya istri dari seorang tokohnya tidak memakai jilbab. Meskipun masalah ini bagi sang pemimpin partai itu dianggap bukan masalah penting, tapi bagi anak buah atau simpatisan partai itu masalah ini dianggap prinsip. Mereka akan terus bertanya bagaimana partai Islam, kok pimpinannya keluarganya tidak Islami?

Jadi yang lebih utama dalam sebuah partai adalah akhlak dari pimpinan-pimpinan partai itu. Bukan slogan atau motto partai. BIla akhlak para pimpinan partai itu Islami, maka anak buahnya akan semangat dalam memperjuangkan Islam (partai). Tapi kalau pimpinannya tidak serius menjalankan Islam, maka anak buahnya juga loyo.

Dan perlu diketahui bahwa partai Islam bisa menjadi besar, bila dalam tubuh partai itu berlangsung kehidupan yang ‘demokratis/egaliter’. Maknanya dalam partai itu perbedaan pendapat dianggap biasa, selama tidak menyimpang dari Islam. Bila partai terlalu ketat dalam mengatur kebebasan berbicara anggota-anggotanya, maka anggota-anggota akan takut menyampaikan pendapat. Dan ini bisa berakibat pada kreativitas anggota yang lemah. Ini nampaknya terjadi PKS yang terlalu ketat dalam mengatur anggota. Sehingga beberapa aktivis partai menjadi hengkang dari partai itu.

Maka saatnyalah partai Islam berbenah diri. Selain pimpinannya perlu komit dalam menjalankan dan memperjuangkan Islam, pimpinan juga perlu menjaga kehidupan demokratis (bukan otoriter) dalam partai.

Kita hanya bisa berharap dari partai Islam, untuk perjuangan Islam. Partai sekuler tidak bisa diharap. Karena partai sekuler, landasan awalnya sudah kacau. Mereka membentuk partai bukan untuk perjuangan Islam. Mereka bentuk partai hanya untuk meraih jabatan kekuasaan dan uang.

Partai sekuler dibentuk hanya bertujuan duniawi. Mereka ‘tidak peduli’ dengan kepentingan akhirat. Bila pun ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya ukhrowi, itu hanya untuk meraih massa belaka. Kehidupan akhirat bukan merupakan tujuan partai itu.

Sementara partai Islam tujuannya adalah akhirat. Program-program partai dibuat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Pengurus dan anggota-anggotanya berpartai karena menjalankan amanah Al Quran dan bukan untuk meraih jabatan kekuasaan belaka.

Bila sebuah partai, para pimpinan dan anakbuahnya komitmen tinggi terhadap Islam, maka partai itu layak disebut Hizbullah, partai Allah. Dan Allah menjanjikan dalam Al Quran,”Sesungguhnya partai Allah itulah yang akan menang.” Bukankah Allah pasti menepati janjinya?

Maka bila partai Islam kecil terus jumlah suaranya dalam pemilu dan kalah dengan partai sekuler, maka perlu evaluasi : Bagaimana sejauh ini komitmen partai terhadap Islam? Apakah partai benar-benar ingin menegakkan hukum Islam (dalam berbagai aspek) di negeri ini? Apakah partai hanya untuk alat bagi anggotanya sekedar untuk meraih jabatan dan keuntungan duniawi belaka dan seterusnya.

Partai Islam dibentuk karena kesamaan aqidah. Kesamaan untuk memperjuangkan Al Quran (Islam) dalam kehidupan. Partai sekuler dibentuk karena kesamaan kepentingan jabatan dan uang.

Renungkanlah ayat-ayat Al Quran berikut ini :

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. (QS al Anfal 61-63)

Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS al Anfal 64-65)

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran 103-104). II

Izzadina