Pemimpin

by

Kabarsahih.com – Masyarakat tergantung pada pimpinannya. Pemimpin ada yang formal dan non formal. Banyak pemimpin non formal yang lebih berpengaruh dibanding pemimpin formal.

Siapa pemimpin non formal itu? Pemimpin-pemimpin yang mempengaruhi masyarakat tapi ia tidak punya jabatan formal dalam pemerintahan. Ia bisa kaum intelektual, para kiyai, atau orang-orang biasa yang kata-kata dan pemikirannya mendapat tempat di hati masyarakat.

Pemimpin seperti ini biasanya lebih ikhlash dalam berbuat. Karena ia tidak mengharapkan harta atau jabatan. Ia hanya mengharapkan masyarakat menjadi baik dan semakin dekat dengan Yang Maha Pencipta.

Ia tidak peduli pemikirannya diikuti atau tidak. Yang penting ia menyampaikan kebenaran.

Para pemimpin seperti ini merasakan langsung denyut nadi permasalahan di masyarakat dan berupaya untuk memecahkannya.

Ia tidak hanya duduk di belakang meja, membaca teori-teori dalam buku. Tapi ia terjun langsung, bergaul dan berdialog dengan masyarakat memecahkan problematika masyarakatnya. Problem kecil, sedang dan besar ia teliti dengan seksama dan mencari pemecahan yang terbaik.

Para pemimpin juga bisa dibagi menjadi beberapa tipe. Ada pemimpin revolusioner yang membawa ideologi baru, seperti Soekarno dengan gotongroyongnya, Gorbachev dengan Glastnost-Perestroika dan lain-lain. Ada juga pemimpin yang sekedar melanjutkan ideologi pendahulunya, seperti kebanyakan pemimpin-pemimpin di dunia saat ini.

Rasulullah saw adalah pemimpin yang revolusioner. Rasulullah adalah pemimpin non formal yang membawa ideologi baru bagi bangsa Arab saat itu. Ideologi Islam yang bersumber pada Al Quran.

Rasulullah membawa perubahan revolusioner bukan hanya bagi bangsa Arab tapi bagi sejarah kemanusiaan. Bayangkan Rasulullah membalikkan peradaban Arab yang saat itu senang berkelahi antar suku, dipersaudarakan Rasulullah. Bangsa Arab yang tidak menghormati anak perempuan, bahkan ‘kadang’ menguburkannya hidup-hidup diganti dengan penghormatan yang tinggi terhadap wanita. Anak-anak disuruh menghormati ibunya (dikatakan Rasulullah tiga kali), sebelum bapaknya. Bangsa Arab yang senang dengan ‘budaya oral’, dimajukan Rasulullah dengan budaya tulis. Bangsa Arab yang suka berpakaian telanjang di depan Ka’bah diganti dengan pakaian yang menutup aurat. Bangsa Arab yang menghargai orang karena jabatan atau kekayaan, diganti dengan penghormatan kepada ketaqwaan kepada Pencipta (ilmu dan amal yang berkualitas dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa). Bangsa Arab yang senang dengan menyembah patung-patung diganti dengan penyembahan kepada Zat Yang Maha Pencipta yang tidak bisa diindera manusia.

Rasulullah saw menyatakan bahwa beliau dibimbing wahyu Al Quran dalam melakukan perubahan di masyarakat ini. Dan orang-orang yang memeluk Islam saat itu –baik dari golongan bangsawan atau rakyat jelata- memang merasakan betul bagaimana menyatunya pribadi Rasulullah dengan Al Quran.

Mereka merasakan bagaimana pemimpin mereka bergerak bersama mereka, berjalan bersama mengatasi masalah secara bersama. Rasulullah menderita kelaparan, diancam dibunuh dan seterusnya. Bahkan para sahabat yang ikut serta Rasulullah ada yang disiksa dan dibunuh.

Tapi karena Rasulullah yakin bahwa ideologi yang dibawa ini adalah ideologi yang kokoh kebenarannya, maka Rasul tidak mundur sedikitpun dalam membawa ideologi ini.

Para sahabat mendapat sekitar sepuluh ayat Al Quran untuk difahami dan diamalkan dari pemimpinnya.

Ideologi yang solid yang bersumber dari Al Quran ini menjadikan para sahabat tidak gentar sedikitpun menghadapi ancaman, terror dan pembunuhan yang dilakukan kaum kafir Quraisy. Mereka yakin bahwa ideologi Al Quran yang bersumber dari Yang Maha Hebat ini pasti akan menang.

Benar. Dalam waktu 13 tahun masyarakat Islam yang dipimpin Rasulullah saw ini mewujud dalam kenyataan di Madinah. Dan delapan tahun kemudian dengan pasukan sekitar 10 ribu orang, Rasulullah saw menaklukkan Mekkah.

Dan tidak sampai 100 tahun Islam kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ke Afrika, Eropa, Asia Tenggara (Nusantara), Cina, dan seterusnya. Islam menyapu ideologi-ideologi lain buatan manusia yang banyak kelemahan.

Maka tidak heran, karena begitu hebatnya kepemimpinan Rasulullah, seorang penulis non Muslim Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai pemimpin nomer satu di dunia. Tidak ada pemimpin yang pengaruhnya demikian hebat dan luas sebagaimana Rasulullah.

Bayangkan, bila para pemimpin lain biasanya hanya dikutip kata-katanya –tingkah laku buruknya disembunyikan-, Rasulullah saw diceritakan secara lengkap kata-katanya, perilakunya bahkan diamnya.

Rasulullah saw memang manusia paripurna (insan kamil). Karena itu para cendekiawan Islam menulis, bahwa agar manusia menjadi insan kamil –atau mendekati insan kamil—harus mencontoh Rasulullah. Bahkan karena kecintaan pada Rasulullah, ada yang sampai meniru bentuk fisik atau pakaian Rasulullah. Begitu cintanya para sahabat kepada Rasulullah, bahkan ada yang ‘minum bekas minuman Rasulullah’, ada yang ingin memeluk tubuhnya, ada yang mengikuti jejak Rasulullah dimana Rasul berhenti di suatu tempat ia ikut berhenti dan seterusnya.

Apakah di dunia ini mungkin terjadi kembali perubahan revolusioner, sebagaimana yang terjadi di Madinah? Bukan mustahil. Asal para pemimpin Islam berpegang teguh pada Al Quran dalam melakukan perubahan. Dengan ilmu (bersumber dari Al Quran) insya Allah semua bisa diatasi.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al Ahzab 21-24) II

Izzadina