Refreshing

by

Tiap manusia di dunia ini butuh refreshing. Butuh istirahat. Yang menarik refreshing Rasulullah adalah shalat dan membaca atau mendengarkan Al Quran.

Rasulullah memang menempati maqam tertinggi manusia. Rasulullah menyatakan bahwa shalat adalah mi’raj kaum mukmin. Membaca atau mendengarkan Al Quran menenangkan hati. Rasulullah saw kadangkala beristirahat sambil menyuruh seorang sahabatnya membacakan Al Quran kepadanya. Rasulullah ingin menikmati Al Quran dengan pendengaran tajam beliau.

Bagaimana dengan kita? Bahagialah kita bisa seperti atau mendekati Rasulullah. Kita  perbanyak shalat Sunnah bila kita mendapatkan problem. Kita perbanyak membaca dan menghayati makna Al Quran untuk memecahkan problem kehidupan kita.

Di samping itu tidak dinafikan kita kadang mencari refreshing dengan bentuk yang lain, seperti : mendengarkan lagu, melihat film, bercanda dengan teman atau anak-istri, berolahraga, atau menikmati pemandangan alam semesta yang diciptakan Allah ini.

Mencari refreshing seperti itu tidak dilarang Islam. Dengan syarat bahwa tidak melupakan shalat, tidak melupakan bahwa pemandangan yang hebat yang kita saksikan itu adalah ciptaan Yang Maha Hebat Allah SWT.

Dengan menikmati resfreshing itu biasanya otak kita lebih segar. Lebih fresh misalnya setelah bekerja seharian.

Allah SWT berfirman,” Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS Al A’raf 32)

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS Al A’raf 33)

Maka beda seorang mukmin dengan orang kafir dalam menikmati refreshing. Orang-orang kafir menikmati refreshing dengan melakukan hal-hal maksiyat. Seperti berzina, minum khamr, mendengarkan lagu-lagu porno dan lain-lain. Orang-orang mukmin melakukan refreshing dengan hal-hal yang halal, seperti disebutkan di atas.

Di masa penjajahan dulu, kita melihat tentara Belanda setelah berpayah-payah dalam peperangan, biasanya mereka kemudian berpesta pora dengan minum-minuman keras, bermain-main dengan wanita yang bukan istrinya dan lain-lain.

Beda dengan pejuang-pejuang Islam Indonesia. Setelah mereka ‘berpeluh keringat dan darah’ dalam perjuangan melawan penjajah, mereka duduk bersimpuh di surau atau masjid minta pertolongan kepada ‘Dzat Yang Maha Kuasa’, Allah SWT agar diberi kemenangan. Lagu-lagu yang diciptakan untuk mengusir penjajah pun lagu-lagu perjuangan yang bermakna. Begitu pula bila mereka ingin menikmati kemesraan dengan perempuan, maka mereka kembali ke istrinya yang sah (atau mungkin menikah lagi di tempat perjuangan secara sah di hadapan para kyai dan saksi).

Menikah lagi –diperbolehkan Islam maksimal empat- beda dengan berzina. Menikah lagi (poligami) disana ada unsur tanggungjawab. Ada unsur penghormatan terhadap wanita, karena bila wanita itu hamil dan melahirkan, maka sang suami wajib memelihara dan mendidiknya bersama istri-istrinya.

Sedangkan dalam perzinahan, tidak ada unsur tanggungjawab. Laki-laki cenderung meremehkan perempuan –‘dianggap seperti menjual daging’. Setelah menikmati, laki-laki langsung pergi. Tidak peduli perempuan itu sedang menderita atau hamil akibat hubungan badan itu.

Makanya Al Quran tegas dalam masalah perzinahan ini. Bukan hanya dilarang berzina, bahkan mendekatinya pun dilarang (karena bisa-bisa terpeleset bila sudah dekat). Rasulullah melarang bersepi-sepian laki-laki dan perempuan, karena yang ketiga adalah syetan. Yang suka membisiki dan mengipas-ngipasi agar perzinahan dilakukan, meskipun awalnya hanya berpegangan tangan dan seterusnya.

Al Quran menyatakan : “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS Al Isra’ 31-33)

Lihatlah ayat tentang zina di atas. Zina diapit dengan ayat-ayat tentang pembunuhan. Karena hubungan antara zina dengan pembunuhan adalah dekat. Mereka-mereka yang suka pada pembunuhan –perampok dan para penjahat—biasanya dekat dengan dunia pelacuran.

Ya memang di dunia ini, kejahatan akan berkelindan dengan kejahatan. Begitu pula kebaikan berkelindan dengan kebaikan.

Jadi bila kita suka berbuat baik (amal shalih) dan berniyat untuk refreshing dengan hal-hal yang baik, maka insya Allah Allah menunjukkan jalannya. Menunjukkan jalan-jalannya. Selamat berefreshing. Amiin. Wallahu alimun hakim.  II

Izzadina